Kamis, 31 Juli 2014

Aku bisa mencintaimu

Aku bisa mencintaimu karena sering bertatap muka, bertegur sapa, atau bercanda ria denganmu. Namun tidak bisa kulakukan. Aku jauh dari mu. Jauh seperti jarak bekasi-surabaya. Namun sesekali aku berusaha bertemu dengan mu, walau hanya untuk membawa bingkisan kecil, melihat senyum mu atau melihatmu dalam sholat dan tilawahmu.

Aku bisa mencintaimu dengan mendengarkan cerita hari hari mu di telepon. Tapi tidak bisa kulakukan. Kau tidak menerima telponku. Walau baru kali pertama ini aku ingin bicara pada mu. Aku pahami itu. Kau dan aku tau itu tidak baik untuk saat ini.

Aku bisa mencintaimu dengan berkomunikasi denganmu melalui sms, whatsapp, line, ataupun media sosial lainnya. Tapi tidak bisa kulakukan. Jarak ini terasa begitu jauh untuk dengan teknologi canggih saat ini.

Aku bisa memencintaimu dengan membaca tulisan2 mu di blog. Mencari tau apa yg ada di pikiranmu atau cerita perjalanan hidupmu. Tapi tidak bisa kulakukan. Tulisan itu seakan lenyap ditelan private view. Hanya kau yg dapat membaca nya.

Lalu apa yang masih membuatku bertahan mencintaimu?
Tidak ada yg bisa kulakukan untuk mu.

Aku bisa mencintaimu dalam setiap doaku, dalam setiap sholatku dan dalam keyakinanku.

Selasa, 24 Juni 2014

Aneh, di luar logika, tapi ini sungguh terjadi

Di dunia ini, banyak orang mencintai seseorang yang bahkan bicara dengannya langsung lebih dari 5 menitsaja pun belum pernah.Mungkin itu termasuk kalian, bukan? Diam-diam memendam perasaan. Tapi tidak mengapa. Jaga kehormatandiri dan perasaan. Bersabarlah. Menunggu sambil terus memperbaiki diri. Besok lusa, jika tiba waktunya, benar caranya, dan berjodoh, kalian bisa menghabiskan 50 tahun bersamanya.
Tere Liye

Selasa, 29 April 2014

9 Hal yang Harusnya Mulai Dilakukan di Usia 20 Tahunan

Usia 20 Tahunan memang masa paling monumental dalam kehidupan kita. Seperti yang sebelumnya telah kita bahas dalam “7 Kesalahan yang Harusnya Tidak Dilakukan di Usia 20 Tahunan” dan “Menemukan Sejatinya Diri Kita di Usia 20 Tahunan”. Kali ini kita akan membahas apa saja yang mungkin bisa kita mulai untuk membuat Usia 20 tahunan kita sebagai masa yang monumental dan berpengaruh positif pada masa depan kita jauh kedepan.
1. Mulai Berdiri dengan Kaki Sendiri
Usia 20 tahunan adalah masa transisi yang cukup berat dalam zona kehidupan kita. Perpindahan masa dari era sekolahan ke dalam era karir menuntut kita untuk cepat beradaptasi dengan berbagai hal baru, salah satunya adalah kemandirian. Sudah bukan jamannya lagi bagi kita untuk terus-menerus meminta uang jajan dari orang tua. Berusahalah untuk hidup secara mandiri. Mulailah bekerja untuk membiasakan diri anda hidup dengan tidak bergantung pada orang lain. Meskipun penghasilan mungkin belum seberapa, toh itu adalah hasil kerja keras kita sendiri.
“Real man use three pedals??? No! Ral Man pakai mobil yang dia beli dengan keringatnya sendiri.” – Bagus Berlian
2. Let’s Get Lost
Lakukanlah perjalanan ke tempat-tempat yang baru, lihatlah dunia dengan lebih luas, pelajari kebudayaan orang lokal dan cobalah berinteraksi dengan bahasa mereka, hal ini akan membawa akan pemahaman baru betapa beragamnya dunia ini. Seperti kata banyak para penjelajah dunia, traveling adalah sebuah proses pendewasaan untuk melihat dunia yang lebih berwarna. Kemungkinan tersesat pasti ada, tapi kalau anda tidak pernah tersesat, akankah anda menemukan jalan yang baru?
Ingat bagaimana dulu Christopher Columbus menemukan benua Amerika? Awalnya dia mencoba hal baru dengan menempuh jalur barat untuk menuju India dan akhirnya malah sampai di sebuah dunia baru yang bernama Amerika. Ketika dia kembali dan diolok-olok oleh para penjelah lainnya kala itu, Christopher Columbus berkata, “Hanya orang malas saja yang tidak bergerak, orang-orang ini hanya pintar bicara saja tanpa pernah berbuat. Tetapi kalau Anda bergerak kemungkinan tersasar pasti ada. Tetapi kalau Anda tak mau kesasar, Anda tak akan pernah menemukan dunia baru.”
“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

3.Merantau
Jika traveling hanya sekedar mengunjungi, merantau artinya menetap di sebuah tempat baru pada jangka waktu yang cukup lama. Entah itu satu tahun ataupun lebih.
Hidup di sebuah tempat yang baru akan mengajarkan banyak hal, utamanya soal survival. Bergaulah dengan orang setempat, kunjungi landmark kota yang unik dan kenalkanlah budaya anda kepada mereka. Dengan begini anda akan belajar untuk menjadi duta budaya anda untuk warga setempat. Selain itu, merantau juga akan mengajarkan anda untuk memulai sebuah kehidupan baru dengan banyak orang baru di dalamnya.
4. Sekali Seumur Hidup, Cobalah Menjadi Minoritas
Dalam sebuah tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Cobalah Menjadi Minoritas Walaupun Sekali Seumur Hidup” saya pernah memaparkan bahwa tujuan untuk menjadi minoritas sekali seumur hidup bukanlah untuk ikut-ikutan menjadi seperti golongan tertentu, tapi hal ini lebih bertujuan agar kita bisa hidup untuk saling menghargai sebagai sebuah bangsa yang beragam. Banyak sekali persepsi-persepsi tidak benar di antara kita yang telah mengakar dan mestinya harus dicabut karena kenyataannya memang tidak demikian. Sekali seumur hidup, cobalah keluar dari zona nyaman anda dan cobalah untuk bergaul dengan orang yang berbada baik secara agama, suku, ras ataupun adat-istiadat. Sekali lagi bukan untuk ikut-ikutan menjadi golongan tertentu, tetapi lebih agar kita dapat saling hidup dalam suasana yang toleran dan harmonis.
“Victoria Concordia Cresit – Victory comes from harmony” – Arsenal FC’s Motto.
5. Berhenti Memendam Rasa, Ungkapkanlah Segera
Jika anda masih pernah memendam rasa pada seseorang di masa lalu yang masih tertahan hingga hari ini, segera saja hentikan omong kosong ini. Memikirkannya dari jauh tidak akan membuatnya mengerti betapa tulusnya perasaan ini. Mendoakannya dari jauh tidak akan pernah membuatnya paham betapa sucinya cinta ini. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengungkapkan 3 buah kata “I Love You”, agar apa yang selama ini diduga-duga dalam hati terjawab sudah.
Jika jawaban yang didapat adalah “Iya”, artinya anda berpeluang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius kedepannya nanti. Jika jawaban yang didapat adalah “Tidak”, artinya anda berkesempatan untuk segera move on dan menemukan the right one yang mungkin selama ini juga mencari anda entah di belahan bumi bagian mana.
6. Tetapkan Passion Anda dan Investasikan 10.000 Jam Disana
Sebagai seorang anak muda yang ingin terus berkembang, beberapa pertanyaan sering mampir di dalam pikiran kita adalah “sebenarnya apa sih bakat saya?” atau “sebenarnya passion saya dimana?”. Gairah untuk menemukan talenta ini sering kali muncul dan acap kali membuat anak muda seperti kita “galau”. Beberapa dari kita ada yang berkonsultasi dengan para psikolog, ada juga yang melakukan test bakat ini-itu atau bahkan mungkin juga ada yang lari ke dukun.
Jika anda pernah membaca analisa bagaimana talenta lahir, anda akan tahu bahwa dibutuhkan jam terbang setidaknya 10.000 jam agar anda mahir di dalam suatu bidang. Hal ini bisa dilihat dari 10.000 jam yang dihabiskan oleh The Beatles manggung di Hamburg dan juga Mozart bermain piano sejak kecil. Segera tetapkan passion anda dan investasikan 10.000 jam disana, karena mungkin passion selama ini bukan untuk dicari, tapi untuk ditetapkan.
“Every Artist was first an amateur” – Ralp Waldo Emerson
7. Mulailah Berkarya dan Buat Publik Menikmatinya
Karya adalah cara dari banyak talenta berbakat untuk berkomunikasi dengan dunia. Jika anda telah berani menginvestasikan 10.000 jam anda untuk menjadi seorang ahli, segeralah ciptakan karya yang mampu memberikan pengaruh kepada orang sekitar anda. Karena dengan sebuah karya, kelak orang akan mengenang bahwa anda pernah lahir di dunia.
“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama? Bukan! Manusia mati meninggalkan karya!” – Bagus Berlian
8. Bergabung dengan Sebuah Komunitas
Sesudah anda lulus dari bangku kuliah dan mulai berkarir, anda akan merasakan bagaimana teman dekat anda “menghilang” satu-persatu. Dari yang awalnya susah nyocokin jadwal untuk sekedar ketemuan hingga benar-benar menghilang di dalam kesibukannya masing-masing. Bergabung dangan sebuah komunitas tertentu dapat membantu anda untuk mendapatkan teman baru dengan banyak minat dan visi yang sama. Selain itu, bergabung dengan sebuah komunitas tertentu dapat membantu anda untuk membangun networking yang bisa jadi berguna untuk kehidupan anda kedepan nantinya.
9. Berterima Kasih Kepada Orang Tua Karena Telah Membesarkan Kita dengan Sangat Baik
Sadar atau tidak, di dalam perjalanan yang sejauh ini tertempa, orang tua kita memiliki peran yang signifikan dalam membawa kita pada jenjang yang seperti sekarang ini. Walaupun anda mungkin sekarang sudah tidak tinggal dalam satu kota ataupun satu atap lagi, ada baiknya anda masih tetap menelponnya untuk sekedar menanya kabar atau sesekali menjenguk untuk sekedar membawa oleh-oleh. Sikap seperti ini juga untuk memastikan bahwa selama ini mereka tidak melahirkan orang yang salah.
Mulailah membuat keputusan-keputusan yang tepat di usia 20 tahunan anda. Karena di masa yang akan datang, anda akan lebih menyesali hal-hal yang tidak pernah anda lakukan, dari pada hal-hal yang telah anda lakukan.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” – Mark Twain

sumber: http://bagusberlian.com/9-hal-yang-harusnya-mulai-dilakukan-di-usia-20-tahunan/

Sabtu, 01 Maret 2014

Coba kesana

Jika ada anak2 yang malas sekolah, coba bawa mereka kesana. Ke daerah terpencil itu.
Pagi2 sekali anak2 di sana berangkat sekolah, jalan kaki, jauh dari rumah, melewati jalan yang becek dan blok nya ampun ampunan.
Tapi raut muka mereka riang. Meskipun ketika sampai, belum tentu ada guru yang datang..

Coba kesana

Jika ada anak2 yang malas sekolah, coba bawa mereka kesana. Ke daerah terpencil itu.
Pagi2 sekali anak2 di sana berangkat sekolah, jalan kaki, jauh dari rumah, melewati jalan yang becek dan blok nya ampun ampunan.
Tapi raut muka mereka riang. Meskipun ketika sampai, belum tentu ada guru yang datang..

Rabu, 12 Februari 2014

5 menit untuk 50 tahun

Di dunia ini, banyak orang mencintai seseorang yang bahkan bicara dengannya langsung lebih dari 5 menit saja pun belum pernah.
Itulah kenapa urusan perasaan itu disebut 'gila'.
Mungkin itu termasuk kalian, bukan? Diam-diam memendam perasaan. Tapi tidak mengapa. Bersabarlah. Menunggu. Besok lusa, jika tiba waktunya, benar caranya, dan berjodoh, kalian bisa menghabiskan 50 tahun bersamanya.

-Darwis Tere Liye-

Minggu, 09 Februari 2014

Bukan Senam Ya Iyalah

 
 
Seperti biasa, hari minggu pagi setiap dua minggu sekali di tempat saya bekerja akan selalu ada acara Safety Talk. Semua karyawan baik permanen maupun kontraktor wajib ikut. Kegiatan Safety Talk tidak hanya membahas isu safety di lingkungan pekerjaan saja, tapi juga kesehatan, makanan, perkenalan new comer, kelistrikan, transportasi, management message, sampai standup komedi pun ada. Tergantung planning acaranya.
 
Nah, hari minggu ini 9 Februari 2014. Safety Talk membahas beberapa point, yaitu:
1. Pre-work Stretching
2. Perkenalan New Comer
3. Ethics
4. Fire Alarm
5. Standup Comedy
6. Management message
7. Reward STOP card terbaik
 
Oke, untuk acara pertama yaitu pre-work stretching. Sebenarnya materi ini sudah disampaikan oleh Mas Wira Nugraha (Suban Instrument Techinician) pada hari sabtu di Toolbox Meeting I/E Maintenance. Tapi karena menurut Pak Amin Ahmadi (Supervisor I/E Maintenance) materinya bagus, maka materi ini disampaikan lagi untuk seluruh karyawan yang ada di Site. Pre-work Strectching ini diambil senam yang bernama Radio Taisho. Seperti apa gerakannya? Mari kita lihat video dibawah ini:
 
 
 
Senam Radio Taisho merupakan senam yang biasa masyarakat jepang lakukan setiap pagi sebelum memulai aktivitasnya. Mulai dari anak sekolah, pekerja di pabrik, kantor, bahkan di perusahaan Jepang yang ada di luar negaranya juga melakukan senam ini. Ada yang mengatakan bahwa senam ini juga adalah senam kebahagiaan (katanya..haha). Selain itu, juga untuk menambah semangat dan rasa kebersamaan di lingkungan kerja.
 
Karena gerakannya relatih mudah dan waktu yang diperlukan hanya 3 menit. Maka Pak Amin merencanakan setiap hari saat Toolbox Meeting I/E Maintenance kita semua senam dulu. Supaya kita makin semangat, sehat dan akrab.
:D 
 

Jumat, 07 Februari 2014

Worth waiting

 
 

Source: Link
 
No matter how long it takes,
True love is always worth the wait.

Rabu, 05 Februari 2014

Nasehat Dua Lusin

"Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah semakin besar, atau semakin memudar. Selama kita yakin atas jalan kita dan tetap mematuhi rambu rambu yang ada, Insya Allah akan sampai tujuan dengan selamat. Tak perlu terburu-buru, dan tak boleh menunda nunda. Persiapkan bekal yang baik untuk perjalanan. Perjalanan yg panjang. Selama perjalanan jangan lupa terus berdoa. Semoga kita bisa sampai dengan selamat. Berhasil melalui berbagai rintangan dan terus belajar. Tetap bersabar dan selalu bersyukur, semoga kita bisa menemukan celah kebahagiaan di setiap skenario takdir-Nya. Iringi terus dengan restu orang tua, terutama sang bunda, agar langkahmu senantiasa dimudahkan oleh-Nya. Perjalanan ini bukan sebatas ujung dunia saja, tapi jauuh lebih panjang dari itu. Perjalanan menuju Jannah sangat perlu bekal. Sangat perlu. Semoga bisa menjadi pribadi yg lebih baik selepas perjalanan Dua Lusin tahun ini.. Aamiin"

Sabtu, 25 Januari 2014

Urusan Perasaan, Perasaan, dan Perasaan (Repost DTL)


Saya akhirnya menulis tentang ini, sebenarnya akan lebih baik jika kalian berproses menemukan pemahaman ini, proses yg kelok-kelok, terjaga, penuh kehormatan, selamat tiba di ujungnya. Itu akan lebih spesial, membekas, lantas mengenang semuanya sambil tertawa, ah, dulu ternyata semua itu lucu ya.

Tapi baiklah, karena page saya ini persentase anggota remaja hingga usia 22-nya tinggi sekali, dan jika saya tidak hati-hati, malah bisa salah paham, ada yg seolah-olah mendapatkan pembenaran, maka akan saya rangkum beberapa poin penting urusan perasaan menurut versi Tere Liye (yg akan kalian jumpai paralel konsepnya dgn di novel, buku-buku).
 
1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta lawan jenis, mengharamkannya. Apalagi, duhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba-tiba perasaan itu sudah mekar tak berbilang.
 
2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon-telponan, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?
 
3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma-norma, nilai-nilai, batasan-batasan yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma-norma, nilai-nilai, batasan-batasan tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan untuk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang-prang sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dr hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar-cakar, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Saya rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil-dalil agama dalam notes ini-- karena orang-orang yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama-sama kuat, saya pakai logika kalian saja.
 
4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik-baik, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik-baik, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh-jauh, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.
 
5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh-boleh saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, dan lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar-benar menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang-orang pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas-jelas bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.
 
6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus saya lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal-hal positif, isi waktu bersama teman-teman, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor-pesohor menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata-kata saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman-teman terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.
 
7. Lantas bagaimana sy melewati masa-masa galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan-perasaan kalian. Boleh galau menatap langit-langit kamar. Boleh cerita-cerita curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba-tiba datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang-orang yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka segalau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan cob-coba berdua-duaan, jangan coba-coba pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar-benar menghabisi kehormatan kalian.
 
8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal-sinyal, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang-orang yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang-orang yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang-orang yg mabuk2-mabukan, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun-ampunan, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik. Sy konsen sekali masalah pacaran ini, karena sy tdk ingin kalian menghabiskan masa-masa penting kalian utk urusan perasaan yg sebenarnya di usia kalian tdk penting-penting amat. Dan sy harus bilang, orang-orang yg paham, mengerti benar bahwa pacaran adalah pintu gerbang pergaulan bebas. Itu mengerikan. Masa' kalian mau dekat-dekat dengan pintu yg ada tandanya 'pergaulan bebas'. Saya bisa menjaga diri kok, tenang saja. Well, rasa-rasanya tidak ada orang di muka bumi ini, di zaman sekarang, yg bisa bilang dia sempurna bisa menjaga dirinya. Kalau bisa, maka setan akan gigit jari.
 
Saya membuat beberapa novel tentang perasaan, semoga itu bisa menjadi salah-satu alternatif kalian memahami beberapa poin di atas, hidup ini memiliki batasan-batasan yg tdk bisa dilanggar, bahkan sekuat apapun cinta tsb. Selalu ambil sisi positif dlm cerita-cerita tsb, lihat dr sudut pandang berbeda, maka boleh jd kalian akan menemukan pemahaman baru yg baik. Bukan sebaliknya, mengambil yg bisa memberikan argumen buat kalian--karena namanya novel, tentu sj sy harus memasukkan tokoh-tokoh buruk, jahat. Sy juga menumpahkan banyak postingan soal ini, konsen saya. Sy benar-benar tdk bisa melakukan hal yg lebih kongkret dalam urusan ini, selain dgn tulisan-tulisan. Tapi itu hanya tulisan-tulisan. Itulah kenapa sy sangat menghormati guru-guru, orang-orang dewasa, orang tua di sekitar remaja yg lebih kongkret, secara terus menerus menanamkan pemahaman itu ke remaja-remaja mereka. Dan di atas segalanya, yg akan membuat itu berhasil atau tidak, adalah kalian sendiri. Mari kita janjian, yuks, hari ini, 13 September 2012 maka dua puluh tahun lagi, 2032, kalau umur kita panjang, dan kalian masih ingat postingan ini, kenanglah kembali masa remaja, masa usia 20-an something kalian. Rasa-rasanya sy bisa menebak, kalian akan nyengir mengingatnya. Boleh, nanti tiba-tiba mengirimkan email ke saya, Bang tere, sy masih ingat postingan 20 tahun lalu itu--asumsi sy masih ber narsis ria di mana2. Dan Bang tere ternyata salah. Boleh. Atau kalau sebaliknya, tentu saja boleh, kirim email, bilang, ternyata Bang tere benar.
*repos naskah lama tanpa edit tanggal, dll
*Darwis Tere Liye (DTL)

 

Sabtu, 11 Januari 2014

Rabu, 08 Januari 2014

Kapal dan Pelabuhan

 
Sebuah kapal yang telah disiapkan selama bertahun tahun siap untuk berlayar. Berlayar mengarungi luasnya samudra di bumi ini. Berlayar untuk mencari pengalaman dan pengamalan atas apa yang telah ia persiapkan sebelumnya.
 
Di samudra yang luas itu tentu banyak sekali rintangan. Hujan, badai, angin kencang dan gelombang besar. Semua ia lalui dengan berbekal ilmu yang telah ia siapkan sebelumnya.
 
Hingga suatu hari, kapal itu memerlukan sesuatu, sesuatu yang membuatnya nyaman, tentram dan damai. Sesuatu yang membuat dirinya merasa pulang. Suatu tempat  untuk kembali. Pelabuhan.
 
Memang, telah beberapa kali Ia singgah di pelabuhan. Pelabuhan pelabuhan tak bertuan yang mungkin saja telah disiapkan untuknya. Namun ternyata bukan pelabuhan itu yang membuatnya merasa pulang.
 
Kapal itu terus berlayar dan berlayar. Kembali berlayar mengarungi samudera dengan ilmu yang telah ia persiapkan sebelumnya. Hingga suatu saat kapal itu melihat sebuah pelabuhan. Pelabuhan tak bertuan. Pelabuhan yang belum sempurna. Masih perlu waktu untuk memperbaiki, memperindah, mempersiapkan segalanya untuk menjadi pelabuhan yang sebenarnya.
 
Akhirnya kapal berhenti sejenak di pelabuhan itu. Nian.. Indah sekali pemandangan di sana, sejuk menentramkan, suasana religius pun hadir disana. Orang orang dengan sholat yang khusyuk, tilawah yang indah dan para tahfiz yang begitu semangatnya menghapalkan ayat-ayat suci-Nya. Subhanalloh. Ia merasa pulang. Ia ingin terus kembali ke sana. Meskipun kapal harus tetap berlayar ke samudra yang luas, namun ia ingin tempat ini sebagai tempat nya untuk berlabuh. Kembali pulang untuk mempersiapkan segalanya.
 
Pelabuhan itu bukan milik siapapun. Tak bertuan. Kapal-Kapal lain juga banyak yang hendak menjadikannya tempat berlabuh. Menjadi tempat untuk kembali pulang. Tapi, apa boleh buat, pelabuhan itu masih butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya. Entahlah, kapal mana yang nantinya boleh berlabuh dan menetap disana. Menjadikannya tempat untuk kembali pulang.
 
Kapal yang tadi berhenti sejenak pun sadar. Belum saat nya. Perjalanan masih panjang, samudra masih begitu luas, pengalaman berlayar pun belum cukup, dan yang pasti pelabuhan itu belum siap untuk dijadikannya tempat untuk berlabuh.
 
Kapal itu pun pergi, kembali berlayar. Mengarungi samudra. Menunggu? Ya, tapi tidak. Menunggu sesuatu yang memang pantas untuk ditunggu. Bukankah semakin lama menunggu maka akan semakin indah rasanya ketika mendapatkannya? Tak hanya sekedar menunggu, tapi lebih dari itu. Tak hanya diam, tapi terus berlayar mengarungi samudera. Hingga suatu saat kapal itu akan kembali ke pelabuhannya. Pelabuhan yang memang ternyata telah dipersiapkan untuknya.

Rabu, 01 Januari 2014

Sepotong bulan untuk berdua


Malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita melihat bulan yg sama,
mensyukuri banyak hal,
berterima-kasih atas segalanya,
terutama atas kesempatan utk saling
mengenal,
esok-pagi, semoga semuanya dimudahkan..
malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita menatap bulan yang satu,
percaya atas kekuatan janji2 masa depan,
keindahan hidup sederhana, berbagi dan
bekerjakeras,
mencintai sekitar dengan tulus dan apa-
adanya..
malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita menatap bulan yang itu,
semoga yg maha memiliki langit
memberikan kesempatan,
suatu saat nanti, dengan segenap
pemahaman baik
menjaga kehormatan perasaan
kita menatap bulan,
dari satu bingkai jendela
*Tere Liye