Sebuah kapal yang telah disiapkan selama bertahun tahun siap untuk berlayar. Berlayar mengarungi luasnya samudra di bumi ini. Berlayar untuk mencari pengalaman dan pengamalan atas apa yang telah ia persiapkan sebelumnya.
Di samudra yang luas itu tentu banyak sekali rintangan. Hujan, badai, angin kencang dan gelombang besar. Semua ia lalui dengan berbekal ilmu yang telah ia siapkan sebelumnya.
Hingga suatu hari, kapal itu memerlukan sesuatu, sesuatu yang membuatnya nyaman, tentram dan damai. Sesuatu yang membuat dirinya merasa pulang. Suatu tempat untuk kembali. Pelabuhan.
Memang, telah beberapa kali Ia singgah di pelabuhan. Pelabuhan pelabuhan tak bertuan yang mungkin saja telah disiapkan untuknya. Namun ternyata bukan pelabuhan itu yang membuatnya merasa pulang.
Kapal itu terus berlayar dan berlayar. Kembali berlayar mengarungi samudera dengan ilmu yang telah ia persiapkan sebelumnya. Hingga suatu saat kapal itu melihat sebuah pelabuhan. Pelabuhan tak bertuan. Pelabuhan yang belum sempurna. Masih perlu waktu untuk memperbaiki, memperindah, mempersiapkan segalanya untuk menjadi pelabuhan yang sebenarnya.
Akhirnya kapal berhenti sejenak di pelabuhan itu. Nian.. Indah sekali pemandangan di sana, sejuk menentramkan, suasana religius pun hadir disana. Orang orang dengan sholat yang khusyuk, tilawah yang indah dan para tahfiz yang begitu semangatnya menghapalkan ayat-ayat suci-Nya. Subhanalloh. Ia merasa pulang. Ia ingin terus kembali ke sana. Meskipun kapal harus tetap berlayar ke samudra yang luas, namun ia ingin tempat ini sebagai tempat nya untuk berlabuh. Kembali pulang untuk mempersiapkan segalanya.
Pelabuhan itu bukan milik siapapun. Tak bertuan. Kapal-Kapal lain juga banyak yang hendak menjadikannya tempat berlabuh. Menjadi tempat untuk kembali pulang. Tapi, apa boleh buat, pelabuhan itu masih butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya. Entahlah, kapal mana yang nantinya boleh berlabuh dan menetap disana. Menjadikannya tempat untuk kembali pulang.
Kapal yang tadi berhenti sejenak pun sadar. Belum saat nya. Perjalanan masih panjang, samudra masih begitu luas, pengalaman berlayar pun belum cukup, dan yang pasti pelabuhan itu belum siap untuk dijadikannya tempat untuk berlabuh.
Kapal itu pun pergi, kembali berlayar. Mengarungi samudra. Menunggu? Ya, tapi tidak. Menunggu sesuatu yang memang pantas untuk ditunggu. Bukankah semakin lama menunggu maka akan semakin indah rasanya ketika mendapatkannya? Tak hanya sekedar menunggu, tapi lebih dari itu. Tak hanya diam, tapi terus berlayar mengarungi samudera. Hingga suatu saat kapal itu akan kembali ke pelabuhannya. Pelabuhan yang memang ternyata telah dipersiapkan untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar